independent news and opnion

Please God, Jangan Ada Militer Diantara Kita – Carine Yunia

0 6


Sekarang, apa faedahnya dari makan terburu-buru atau guling-guling di tanah gitu? Seandainya katakanlah yang di ospek adalah anak Fakultas Kedokteran atau Fakultas Ekonomi, ilmu apa yang akan diterapkan dari kegiatan guling-guling di tanah dengan masa kuliah dia nanti kedepannya? Pelajaran apa yang bisa diambil untuk bekal perkuliahan dia?

Mahasiswa — yang perlu dilatih adalah otaknya bukan otot. Pendidikan ala militer sudah tidak relevan untuk digunakan saat ini.

Civitas akademika adalah zona aman dari hal-hal yang bersangkutan dengan pihak berwajib atau militer.

Mengenai alasan pendidikan bela negara, nasionalisme, atau pendidikan karakter, saya pribadi (anyway, saya jurusan akuntansi) dapat mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di semester satu perkuliahan ditambah lagi Pendidikan Pancasila di semester enam perkuliahan. Belum lagi masa SD, SMP, SMA yang sudah dijejali rasa bela negara dan nasionalisme. Apakah masih belum cukup? Lagipula, bukankah itu juga tugas dosen untuk menyelipkan mengenai bela negara dan nasionalisme kepada anak didiknya?

Kemudian mengenai alasan melatih kepemimpinan, apakah itu benar-benar efektif? Yang saya perhatikan malah seringkali timbul aksi atau rasa balas dendam dari senior (kakak tingkat) mereka. “Nah, rasain, gue juga pernah di posisi seperti itu” misalnya, ke junior mereka. Hal seperti ini harus segera dihentikan.

Menurut saya, didikan militer itu sudah sangat kuno — terbelakang, palagi diterapkan di Universitas. Sudah bukan zamannya lagi pendidikan ala militer masih diterapkan hingga saat ini. Dan tidak ada korelasi antara didikan militer dengan melatih kedisplinan atau kesiapan mahasiwa untuk menyambut dunia perkuliahan kedepannya. Dan tidak mengikuti didikan militer bukan berarti bahwa mahasiswa akan bermental cengeng atau manja. Big no!

Disamping itu, ada banyak cara lain untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menyambut masa perkuliahannya. Kampus bisa melibatkan senior (kakak tingkat) yang berperan sebagai mentor personal yang mengayomi untuk para mahasiswa baru. Orientasi dengan mengedepankan nilai kekeluargaan akan lebih bermanfaat.

Kegiatan orientasi dan pengenalan kampus seharusnya menyenangkan dan membangun.

Dikatakan menyenangkan ketika nilai-nilai humanism diterapkan. Karena sejatinya setiap manusia memiliki ruang kebebasan dan kemerdekaan mereka sendiri. Tanpa kekangan atau hukuman fisik, mahasiswa akan lebih bebas mengexplore rasa ingin tahu mereka, their curiosity. Inilah yang harus diwujudkan.

Dikatakan membangun ketika pembelajaran (Ospek) memiliki manfaat untuk diri sendiri (mahasiswa) dan orang disekitarnya. Diskusi dan menentukan problem solving mengenai permasalahan di lingkungan sekitar bisa melatih daya berpikir kritis mahasiswa. Penyampaian hasil diskusi tersebut akan membentuk keberanian dan kematangan mahasiswa dalam beropini dan berargumen. Keterampilan untuk mengasah argumen tersebut rasanya akan selalu bermanfaat sampai kapan pun, bahkan dapat diterapkan di kehidupan bermasyarakat.



Source link

You might also like

close
Thanks !

Thanks for sharing this, you are awesome !