USA

Sikap Politik ‘Generasi Z’ dalam Kontestasi Politik 2019 di Indonesia

Generasi Z merupakan pengkategorisasian generasi manusia yang lahir antara rentang waktu 1995 hingga 2014 sehingga keikutsertaan Generasi Z dalam kontestasi politik 2019 banyak diantaranya yang baru pertama kali mengikuti pemilihan umum, terutama yang lahir antara 1997 sampai 2002. Berikutnya, penulis akan menggunakan istilah Generasi Z untuk menyebutkan mereka yang kali dalam pemilihan umum kontestasi politik 2019 agar lebih mudah dalam menyampaikan substansi kepenulisan. Lantas dengan pertama kalinya mendapatkan kesempatkan hak pilih dalam pemilihan umum untuk menentukan arah dan masa depan bangsa, lantas bagaimana seharusnya langkah dan sikap politik Generasi Z ini?

Sebelum membahas bagaimana sikap politik Generasi Z dalam kontestasi politik 2019 lebih lanjut, mari kita analisa dan melihat seberapa besar pengaruh Generasi Z dalam menyumbang suara dalam pemilu 2019 nantinya. Seperti yang dimuat oleh Mojok, pemilih dari Generasi Z ini ada di kisaran 30%-35% pada Pemilu 2019 nanti.[1] Itu berarti jumlah suara Generasi Z dalam pemilu nanti sangat besar dan tidak bisa dihiraukan. Presentase jumlah suara yang tidak bisa dikatakan sedikit ini membuat banyak para politisi saling berusaha untuk mencoba menggaet suara untuk mendukungnya, cara-cara yang dilakukannya pun beragam seperti membagi-bagikan sepeda, naik mini chopper, dll. dengan feedback dari Generasi Z yang beragam pula.

Mengapa beragam? Beragam yang dimaksud disini bukan hanya reaksi dan tanggapan saja, lebih dari itu, termasuk juga prilaku serta guyonan para Generasi Z di dunia maya. Sesuai dengan namanya mengapa dikategorikan sebagai Generasi Z, karena sejak dilahirkan Generasi Z telah akrab dengan segala macam bentuk teknologi informasi. Meminjam konsep Benedict Anderson, Generasi Z bagaikan Imagined Communities di sosial media, karena disana para Generasi Z bebas dalam berekspresi sehingga dengan mudah menyampaikan aspirasi dan kritik dengan bentuk apapun sekreatif mereka sebagai bentuk feedback atas segala realitas politik yang terjadi.

Generasi Z hidup didalam zaman semacam itu, ekosistem internet yang sangat mudah diakses dan perputaran informasi yang sangat cepat membuatnya semakin bebas dalam berekspresi sehingga mendorong mereka melakukan proses demokrasi dengan cara-cara yang unik dan nyeleneh dalam membungkus apa yang hendak disampaikan.

Tak hanya cara dalam menyampaikannya saja yang perlu kita soroti, isu politik apa yang hendak disampaikan oleh Generasi Z pun bukan hanya isu-isu biasa menyangkut kontestasi politik pemilihan presiden Jokowi — Ma’aruf Amin dengan Prabowo — Sandiaga Uno saja, isu-isu Hak Asasi Manusia, Kekerasan dan Pelecehan Seksual, Deportasi Imigran dan sebagainya juga tak luput dari sorotan Generasi Z ini. Seperti dilansir oleh Womentalk, tingkat kepedulian Generasi Z terhadap isu yang telah disebutkan sebelumnya lebih tinggi kurang lebih sekitar 10% dari generasi sebelumnya.[2]

Sebaliknya, walaupun Generasi Z paling berisik tentang isu-isu politik, tetapi juga paling menjaga jarak dengan institusi politik maupun partai politik yang dianggapnya berkonotasi negatif, seperti pusat segala korupsi, licik, tidak mengakar rumput dan lain sebagainya. Cara-cara pendekatan politik yang dilakukan untuk mendekati pemilih bagi Generasi Z merasa sangat jadul dan membosankan. Walaupun banyak para politisi yang menggunakan cara yang kekinian dan mencitrakan diri sebagai bagian dari Generasi Z, namun dirasakan masih ada jarak yang dianggap tidak selaras dengan Generasi Z.

Sikap politik Generasi Z dalam kontestasi politik 2019 adalah sebuah dinamika demokrasi baru yang terjadi di Indonesia, isu-isu politik yang dibawa dalam menyampaikan aspirasi dan kritiknya (walau dengan cara yang unik dan nyeleneh) menandakan bahwa Generasi Z sudah dapat dikatakan berwawasan dan memiliki dan pengetahuan yang memadai mengenai politik. Hanya butuh pendekatan yang lebih mengarusutamakan kepentingan pribadi dan hak-hak sipil daripada ideology dengan cara yang mengikuti trend dan ciamik agar sikap politik Generasi Z dalam berpartisipasi lebih meningkat. Perlu juga pendekatan-pendekatan yang rasional dalam memberikan wawasan dan pendidikan politik agar pemahaman para Generasi Z dalam menyikapi berbagai isu lebih berbobot.

[1] https://mojok.co/okt/esai/tips-dan-trik-menarik-pemilih-generasi-z-pada-pemilu-2019/

[2] https://womantalk.com/world/articles/generasi-z-lebih-peduli-berita-politik-tapi-lebih-pilih-golput-saat-pemilu-xV74q


Source link
Back to top button
close
Thanks !

Thanks for sharing this, you are awesome !

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!