LGBT

Monopoli Gangguan dan Penyakit

Ketika “gangguan” dan “penyakit” kembali disebutsebut saat dan setelah perbincangan mengenai kriminalisasi LGBT, saya mencoba untuk sejenak merenungkan kembali perselisihan perihal penggunaan kedua kata tersebut.

Yang terjadi dalam tataran sosial mungkin memang benar, seperti ujar Ketua MK, adalah suatu perang ide. Meski saya tidak sepenuhnya setuju bahwa perang tersebut terjadi antara “kelompok konservatif” dan “kelompok liberal” di Indonesia, mari kita gunakan saja dulu diksi-diksi yang sudah terlanjur populer ini.

Mengenai terminologi gangguan dan penyakit, rujukan kelompok liberal pada definisi dan klasifikasi berbagai lembaga internasional seperti APA dan WHO yang disandingkan dengan repertoar hak asasi manusia di taraf internasional dituding salah alamat. Sedangkan data implikasi medis yang terangkum dalam berbagai publikasi ilmiah kelompok konservatif menghadapi berbagai bantahan.

Persoalannya adalah, rekan-rekan yang terhormat, biang klasifikasi “gangguan” maupun “penyakit” berada dalam ranah yang terlalu privat untuk dijangkau oleh arogansi argumen saintifik, sekalipun untuk setiap anggota masyarakat yang ingin dianggap memiliki akal sehat. Hal ini berlaku baik untuk kelompok konservatif maupun liberal.

Secara etimologis, gangguan (dis-order) dan penyakit (dis-ease) adalah antitesis dari masing-masing keteraturan (order) dan kenyamanan (ease). Dalam keduanya, kita dapat melihat usaha perlawanan terhadap kekacauan (chaoskampf).

Perlawanan-perlawanan seperti ini tidak dapat serta-merta digeneralisasi ke dalam ranah sosial. Mutasi definisi keteraturan dan kenyamanan di ranah individu merupakan bagian integral dalam perkembangan peradaban manusia. Adalah perilaku inheren bagi tiap-tiap identitas, bahkan tiap-tiap entitas, untuk mengalienasi atribut-atribut yang dirasa mengganggu atau membuatnya tidak nyaman.

Alienasi selalu berbanding lurus dengan individuasi. Dalam pendefinisian diri, secara simultan suatu entitas juga sedang mendefinisikan luar-diri. Fungsi ini sangat krusial dalam konsep pelestarian diri (self-preservation). Dengan mengidentifikasi atribut-atribut luar-diri, suatu individu dapat mencegah pencemaran diri dalam rangka melestarikan diri, baik sebagai entitas maupun identitas.

Perselisihan berlanjut dalam usaha memasukkan alien-alien bagi kelompok konservatif ke dalam kurungan besar à la Michel Foucault melalui jalur kriminalisasi. Masalahnya, masyarakat kita masih gagap dalam memahami fenomena kaum liyan, apalagi untuk melakukan penilaian terhadap sifat-sifat mereka.

Ketergesa-gesaan ini bukan tanpa alasan. Otorisasi akan memuluskan jalan pelestarian diri suatu identitas. Melihat sumber dari otoritas kita adalah common value, monopoli klasifikasi terhadap kedua kata tersebut menjadi jawaban untuk mengorbitkan group value ke dalam agenda otorisasi.

Perlu diingat bahwa monopoli ini tidak hanya berlaku positif seperti pada usaha otorisasi kelompok konservatif. Dengan status quo yang tidak mengatur legalitas kaum liyan tersebut, kelompok liberal pun sebenarnya sedang berusaha melanggengkan nilai-nilai kebebasan individu. Memonopoli status quo, ironisnya usaha ini bersifat “konservatif”.

Sejujurnya saya tidak tahu bagaimana baiknya menutup tulisan ini. Bagaimanapun, semangat pencarian untuk pengetahuan memang tidak seharusnya ditutup walau untuk sebentar saja. Sementara itu, kolom komentar terbuka untuk diskusi.

Mari!




Source link
0
Loading...

Leave a Reply

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!