Entertaiment

ReviewSebentar: Pengabdi Setan; Mengabdi kepada Realita

source: https://media.teen.co.id/files/view/Pengabdi_Setan_2017.jpg?p=clarissapgst/

Kami mengajak seorang penulis yang hampir terkenal namun belum untuk menjadi kontributor di artikel ini. Jacob Julian namanya. Kenapa dia mau menulis untuk BacaanSebentar? Karena dibayar. As simple as that.

Perfilman Indonesia kembali membuat ulang film lawas dengan tujuan yang mulia: memperkenalkan kepada generasi baru bahwa mereka punya film bagus dan mengesampingkan kalau tujuan utamanya uang.

Acap kali film-film nostalgia yang dirilis ulang — beberapa di antaranya bahkan belum pantas untuk akil balig, tak memenuhi ekspektasi penggemar film yang notabene hidup di era film pertama itu ada sampai dibuat ulang kembali.

Kali ini film horor religi berjudul Pengabdi Setan menjadi salah satu korban film yang telah mengalami dibuat ulang yang katanya dibuat ulang karena sang sutradaranya sangat mengagumi film buatan tahun 1980. Karena mengagumi bisa berarti memiliki — kalau punya uang, maka Joko Anwar menghadirkan film ini untuk menunjukkan kalau film horor tak perlu lagi bertipikal esek-esek.

Tapi apa Joko Anwar mampu?

source: http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/20140419_173612_20140418_joko-anwar.jpg

Beberapa saksi mata yang pernah melihat film Pengabdi Setan di awal 80–90an mengatakan, bahwa ini film Indonesia terseram yang pernah mereka lihat.

Contoh saja Amir — bukan nama sebenarnya, selebtwit sembari menjaga warung mie ayam ini mengatakan, “Saya nggak bisa tidur dua hari mas.
Maklum habis nonton film itu rumah saya digusur sama pemerintah.”

Pengabdi Setan 2017 sendiri tidak lantas menjiplak film 1980nya. Ini juga menjadi pertanyaan, apakah film-film dengan judul sama lalu dibuat ulang memang diharamkan untuk menjiplak film awalnya?

Apakah para sutradara ini takut dicap amoral karena kehabisan kreativitas? Kalau saja Joko Anwar tidak mencantumkan judul film ini Pengabdi Setan pun, orang tidak akan perlu membandingkan versi 2017 dengan versi 1980.

Maka di sinilah Joko Anwar diuji.

Tak perlu bicara banyak, penulis sendiri mengagumi gaya penyutradaraan Joko Anwar. Tapi untuk Pengabdi Setan, penulis merasa Joko Anwar kehilangan tastenya tidak seperti ia menggarap Kala, Pintu Terlarang ataupun Modus Anomali.

source: http://1.bp.blogspot.com/-53XTZcXV_yg/UiWjvOTfe9I/AAAAAAAAAMw/kH76Qlj937c/s1600/s44.jpg

Pengabdi Setan 2017 dan 1980 tetap mengambil tokoh sentral seorang ibu yang sudah lupa dengan Tuhan dan memilih menyembah setan. Ibu di versi 2017, dikisahkan adalah seorang penyanyi yang sudah kehilangan namanya sebab telah sakit selama dua tahun. Biasanya sih khas sinetron sama novel itu, penyakitnya kalau nggak leukemia ya kanker. Tapi di sini tidak diceritakan apa penyakitnya.

Sang suami yang tidak diketahui juga pekerjaannya apa karena sudah menggadaikan rumah yang mereka tinggali, tidak bisa berbuat banyak. Mungkin kalau si ibu ini rajin sembahyang, sedekah dan menyantuni anak yatim, judulnya akan menjadi Hidayah sih. Namun setelah sang ibu ini meninggal dan anak ketiganya percaya kalau setelah ada anggota keluarga meninggal dan berjalan empat puluh langkah dari makamnya, si anggota keluarga ini akan bangkit lalu ingat bahwa ia sudah mati, teror di mulai.

Sudah nonton trailernya? Ya terornya kayak begitu saja. Sudah.

Suara lonceng, gangguan-gangguan saat tidur, bahkan penulis nggak habis pikir ternyata orang bersembahyang di sini pun bisa mendapat gangguan dari makhluk alam lain. Ya kalau diserang Alien pas berdoa sih nggak masalah. Lha ini habis shalat diserang, wah pasti ini setannya sakti.

Momen horornya? Penulis menangkap kalau versi 2017 ini adalah homage beberapa film horor yang pernah beredar. Mulai dari horor lawas macam The Exorcist atau buatan tangan dingin James Wan juga nggak luput dari film ini. Porsinya sih pas tapi seperti makan gado-gado yang banyak togenya tetap saja kurang sedap.

Penulis sangat suka melihat adegan, tanpa spoiler, orang-orang berpayung
saat hujan mengelilingi rumah. Tanpa bermaksud berlebihan, adegan itu sangat kuat jika dieksplor lebih lanjut, tidak lantas hanya sebuah tempelan.
Terlebih momen jumpscare film ini pun banyak banget. Kalau dibuat permainan, tiap ada jumpscare di film ini langsung minum arak, mungkin habis keluar bioskop, Anda bisa saja digebukin sama satpam.

jumpscare ala mr. rabbit

Momen jumpscare ini adalah alasan penulis mau mengangkat bokongnya dan ke bioskop untuk menonton premierenya. Karena beberapa hari sebelumnya penulis sempat melihat video reaksi penonton yang menonton film ini sewaktu screeningnya. Video yang memperlihatkan orang-orang bergidik saat jumpscare, mbak-mbak yang komat-kamit sambil menutup mata lalu suara efek melengking sanggup menambah tinggi ekspektasi penulis walau akhirnya runtuh ketika berkebalikan sesudah menonton langsung.

Tone film yang gelap, bahkan sangat gelap sehingga saat sebuah adegan yang harusnya menakutkan tapi karena gelapnya bayangan, jadi berkurang. Pun suara saat sang suami bicara yang kadang terdengar seperti berbisik kalah dengan suara orang menelepon di bangku barisan depan.

Untuk urusan akting, para pemain sudah berada di porsi yang tepat. Penulis sendiri masih suka senyum-senyum kalau membayangkan mbak Tara Basronya makai daster, buatin sarapan, mijetin badan, ngeroki badan penulis.

Tara Basro. source: https://i.pinimg.com/736x/fd/c1/73/fdc1739c6a5e2a4ab63925e5ef17e15d–girls–indonesia.jpg

Hanya sayangnya tokoh ibu, tidak terlalu menonjol wajahnya. Sehingga sulit bagi penulis untuk apa sang suami menikahi orang ini. Mending menikahi Tara Basro, jauh lebih pas. Yang menonjol justru akting pemeran anak-anaknya. Ketakutan yang mereka bawakan tidak berlebihan.

Takut natural yang dirasakan oleh anak kecil.

Nilai tambah bagi Joko Anwar yang selalu pas dalam memilih setiap orang yang memerankan karakter yang ia arahkan. Cuman, memajang nama Fachri Albar dan Asmara Abigail di mana salah satunya menjadi seorang sosok penting yang terdapat di versi tahun 1980 namun ternyata mereka berdua muncul di saat yang tak tepat terlebih lagi penulis sempat berkomentar saat, “Kok cuma begini sih? Ending apaan ini!” kredit titelnya muncul membuat penulis getir-getir kelam dan enggan mengakui Pengabdi Setan 2017 hanyalah sebuah film horor baru dan tak sama dengan versi 1980.

Pengabdi Setan 2017 ini seperti memberi sebuah pesan. Jika versi tahun 1980nya pesannya jelas, tentang religi, menurut penulis versi terbaru ini jauh lebih ke realita yang menghujam seperti setan.

Si ibu adalah sosok perempuan yang mampu menerima realitanya. Dia adalah seorang seniman, penyanyi yang menikah dan ditolak oleh mertuanya. Setelah dia mengabdi kepada realita dan sebuah spoiler yang tak ingin dikupas lebih lanjut oleh penulis, kisah ini tersaji untuk Anda.

Mau tak mau Joko Anwar memang ingin membangun sebuah cerita horor nostalgia. Walau kurang berhasil karena plot yang sederhana dan kurangnya informasi yang diberikan penonton walau sebenarnya masih bisa — kemungkinan besar ada sekuel atau apalah, Anda bisa masuk ke dalam barisan orang yang habis menonton film ini bilang, “Film apaan ini…” atau “Hargailah film-film buatan Indonesia! Hidup NKRI! NKRI harga mati!”

Pilihan di tangan Anda.

Jacob Julian adalah seorang penulis, setidaknya itu yang terjadi sampai saat ini. Berkesibukan yang tentu saja berkaitan dengan menulis. Jika tidak sedang menulis, dia lebih sering mendengarkan lagu-lagu emo yang sesuai dengan hatinya atau nonton tim sepakbola favoritnya yang kebanyakan bintang; Real Madrid. Jacob saat ini tinggal di Madiun dan entah kapan akan ke Jakarta.

BacaanSebentar adalah blog yang berisi informasi seputar dunia digital marketing, karir dan teknologi yang bersifat sosial. Jika kamu ingin menjadi kontributor di BacaanSebentar, caranya mudah banget! Dan memang kami butuh! Langsung aja mention kami di Facebook Page untuk tanya-tanya atau kirim tulisan. Kami tunggu, ya!


ReviewSebentar: Pengabdi Setan; Mengabdi kepada Realita was originally published in BacaanSebentar on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.
Source link

0

Leave a Reply

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!